Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Hipmakadeja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hipmakadeja. Tampilkan semua postingan
08.18
SLABER Keluar Sebagai Juara Grup, Diikuti Baliem Putra Sebagai Runer Up Dan Berhak Melaju Ke Babak Selanjutnya
Written By MELANESIA POST on Sabtu, 20 September 2014 | 08.18
SLABER Keluar Sebagai Juara Grup, Diikuti Baliem Putra Sebagai Runer Up Dan Berhak Melaju Ke Babak Selanjutnya
| Tiem Volly Putra Wisel Meren saat Berhadapan Dengan Baliem Putra, pada Lanjutan Babak Penyisihan Grup Turnamen Baliem Cup I. |
Yogyakarta (02/09/14)- Lanjutan babak penyisihan grup turnamen
volly Baliem Cup I yang digelar sore ini, mempertemukan tiem volly putra
HIPMACERI vs Puncak Papua Putra pada pertandingan pertama, yang mana
tiem volly HIPMACERI keluar sebagai pemenang dalam pertandingan sore
ini, dengan mengemas skor 2:0 tanpa balas.
Selanjutnya pada pertandingan ke dua yang mempertemukan tiem volly putra
Mamberamo Tengah vs Wisel Meren putra, kemenangan diraih oleh tiem
volly putra Wisel Meren dengan skor 2:0, atas tiem volly Mamberamo
Tengah putra.
Sedangkan pada laga selanjutnya yang juga sebagai laga penutup yang
mempertemukan Slaber vs Baliem Putra, pertarungan antara kedua tiem
volly putra ini berlangsung sangat sengit, dimana kedua tiem terlihat
saling menguji kebolehan masing-masing, sehingga memberikan suasana
heboh yang luar biasa dari kedua suporter yang terlihat hadir memenuhi
pinggir lapangan, tempat pertandingan berlangsung.
Sejak wasit yang memimpin pertandingan meniupkan peluit pertanda
pertandingan dimulai, terlihat kedua tiem bermain sangat fokus, tanpa
mau kecolongan, masing-masing menunjukan permainan terbaik mereka,
hingga selisi poinpun terlihat saling berkejaran, namun pada babak (set)
pertama, Dewi Fortuna nampaknya berpihak kepada tiem volly Baliem
Putra, sehingga babak pertama dapat dimenangkan oleh Baliem putra dengan
selisi poin 25:18.
Permainan menarik dan mengesankan kembali ditunjukan kedua tiem yang
berlaga pada pertandingan penutup sore ini di babak ke dua, ke dua tiem
terlihat saling jual beli smas dan blok-blok, yang semakin memeriahkan
suasana lapangan, hingga terlihat para sporter yang hadirpun tak mau
mengalihkan pandangan mereka dari lapangan ke tempat lain. Pada
pertandingan set kedua, Dewi Fortuna nampaknya telah beralih kepada
pihak Slaber, sehingga pertandingan pada set kedua mampu dimenangkan
oleh Slaber, dengan selisi poin 25:23, dengan demikian, kedudukan imbang
1:1, maka babak ke-tiga(set III) pun tak terhindarkan untuk dilakukan.
Pada set ketiga, tidak satupun dari kedua tiem yang bertanding terlihat
akan menyerah, kedua tiem masih tetap ngotot untuk keluar sebagai
pemenang dalam partai ini, sekaligus untuk merebut posisi juara grup.
Meski kedua tiem bermain sama baik, namun kemenangan napaknya lebih
berpihak kepada tiem volly putra Slaber, sehingga Slaber berhasil
menghalau perlawanan ketat yang ditunjukan oleh tiem volly putra Baliem
dengan selisi poin 15:12, dengan demikian, tiem volly putra Slaber
keluar sebagai juara grup dengan mengoleksi 3 poin dari 3 kali
kemenangan, disusul Baliem Putra di posisi Runer Up dengan mengoleksi
poin 2 dari kali kemenangan dan satu kali kekalahan.
Dengan demikian tiem volly putra Slaber dan Baliem Putra dipastikan
lolos dan melaju ke babak selanjutnya, sebagai juara grup dan runer up.
Sedangkan untuk tiem-tiem lainnya yang bertanding sore ini diantaranya
Putra Mamberamo Tengah, Puncak Papua, dan Wisel Meren dipastikan gugur
dalam vase penyisihan grup, sedangkan untuk HIPMACERI yang menang atas
Puncak Papua, akan bertanding lagi esok hari, untuk dapat memastikan
posisi lolos atau tidak.(bc)
15.31
Asal usul Doa Salam Maria
Written By MELANESIA POST on Senin, 02 Juni 2014 | 15.31
Doa ‘Salam Maria’ adalah doa yang dikenal sebagai doa
penghormatan Gereja kepada Bunda Maria. Berikut ini adalah sekilas asal
usul doa Salam Maria, yang mengambil sumber utama dari link ini, silakan klik:
Umumnya doa ini dijabarkan sebagai doa yang terdiri dari tiga bagian:
Namun walaupun bagian ketiga ini dikatakan sebagai ‘doa Gereja’ oleh
Katekismus Konsili Trente di abad ke-16, permohonan Gereja terhadap
bantuan/ perlindungan Bunda Maria, itu bukan baru muncul di abad ke-16.
Doa Gereja di abad awal, yang dikenal dengan doa Sub Tuum Praesidium,
berbunyi, “Di bawah belas kasihanmu kami berlindung, O Bunda Tuhan.
Jangan menolak permohonan kami dalam kesesakan, tetapi bebaskanlah kami
dari mara bahaya, [o engkau]yang suci dan terberkati.” (Sub Tuum Praesidium, dari Rylands Papyrus, Mesir, abad ke- 2 atau 3).
Memang, penyusunan doa Salam Maria ini memiliki kisahnya tersendiri. Kata, “Salam Maria, penuh rahmat” (Ave Maria, gratia plena) itu mengacu kepada Kitab Suci terjemahan Vulgata, yang menerjemahkan secara literal, kata Yunani, chaire kecharitomene, yang sekilas sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Kata, “Salam Maria, penuh rahmat” ini telah dipergunakan oleh para Bapa Gereja sebagai ungkapan penghormatan kepada Bunda Maria. Di abad ke-7, St. Gregorius telah memasukkan ungkapan doa “Salam Maria” ini dalam Liber Antiphonarious, sebagai frasa dalam doa persembahan, dalam teks Misa Minggu keempat Masa Adven. Seabad kemudian, frasa “Salam Maria” ini tercatat sebagai bagian dalam tulisan pengajaran St. Andreas dari Kreta dan St. Yohanes Damaskinus (abad ke 8).
Namun demikian, “Salam Maria” sebagai rumusan doa devosi belum jelas ditemukan sebelum tahun 1050. Dua buah manuskrip tua Anglo-Saxon di British Museum, yang salah satunya berasal dari tahun 1030, menunjukkan bahwa kata, “Salam Maria…. terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu” itu tertulis berulang-ulang dalam sebuah doa penghormatan kepada Bunda Maria.
Tahun 1184, Uskup Agung Canterbury, Abbot Baldwin, menulis:
Doa Salam Maria ini kemudian dikenal sebagai doa-doa yang umum didoakan oleh para orang kudus (Santo dan Santa), seperti St. Aybert, St. Louis dari Perancis, St. Margaret, St. Dominic dan doa di biara-biara, sebagai doa ungkapan pertobatan. Doa ini umum diulangi, sampai puluhan kali, 50 atau bahkan 150 kali, mengikuti pola pengulangan doa “Kudus, kudus, kudus” yang terus diulangi tanpa putusnya di hadapan tahta Allah yang Maha Tinggi.
Di zaman St. Louis, doa “Salam Maria” berakhir dengan “… terpujilah buah tubuhmu”. Penambahan “Yesus” sesudah frasa itu umumnya dikenal dari abad 15, menurut anjuran Paus Urban IV (1261) dan Paus Yohanes XXII (1316-1344). Teks doa Salam Maria seperti yang kita ketahui sekarang, tercatat sebagai bagian depan salah satu karya Girolamo Savonarola, di tahun 1495. Savonarola adalah seorang biarawan, yang dikenal sebagai reformer ordo Dominikan. Dua tahun sebelumnya, frasa “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini. Amin,” tercatat dalam Calendar of Shepherds, edisi bahasa Perancis. Namun penerimaan resmi teks doa Salam Maria selengkapnya, meskipun sudah disebutkan dalam Katekismus Konsili Trente, baru akhirnya dinyatakan dalam Roman Breviary tahun 1568.
Umumnya doa ini dijabarkan sebagai doa yang terdiri dari tiga bagian:
1) “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan
sertamu…..” merupakan kutipan perkataan Malaikat Gabriel ketika
mengunjungi Perawan Maria (lih. Luk 1:28).
2) “Terpujilah Engkau di antara wanita
dan terpujilah buah tubuhmu (Yesus)”, diambil dari salam Elisabet kepada
Perawan Maria ketika Maria datang mengunjunginya (lih. Luk 1:42)
3) “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah
kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin”, dinyatakan
oleh Katekismus Konsili Trente, sebagai doa yang disusun oleh Gereja.
Katekismus tersebut menyatakan, “Adalah sangat tepat, bahwa Gereja Tuhan
yang kudus menambahkan kepada ucapan syukur ini, permohonan kepada
Bunda Allah yang kudus untuk mendoakan kita, dan dengan demikian supaya
kita memohon bantuan kepadanya agar oleh doa-doa syafaatnya, ia
mengusahakan persahabatan antara Allah dan kita manusia, dan memperoleh
bagi kita, berkat yang kita butuhkan untuk hidup sekarang ini dan untuk
hidup yang tidak berkesudahan.”
Memang, penyusunan doa Salam Maria ini memiliki kisahnya tersendiri. Kata, “Salam Maria, penuh rahmat” (Ave Maria, gratia plena) itu mengacu kepada Kitab Suci terjemahan Vulgata, yang menerjemahkan secara literal, kata Yunani, chaire kecharitomene, yang sekilas sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Kata, “Salam Maria, penuh rahmat” ini telah dipergunakan oleh para Bapa Gereja sebagai ungkapan penghormatan kepada Bunda Maria. Di abad ke-7, St. Gregorius telah memasukkan ungkapan doa “Salam Maria” ini dalam Liber Antiphonarious, sebagai frasa dalam doa persembahan, dalam teks Misa Minggu keempat Masa Adven. Seabad kemudian, frasa “Salam Maria” ini tercatat sebagai bagian dalam tulisan pengajaran St. Andreas dari Kreta dan St. Yohanes Damaskinus (abad ke 8).
Namun demikian, “Salam Maria” sebagai rumusan doa devosi belum jelas ditemukan sebelum tahun 1050. Dua buah manuskrip tua Anglo-Saxon di British Museum, yang salah satunya berasal dari tahun 1030, menunjukkan bahwa kata, “Salam Maria…. terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu” itu tertulis berulang-ulang dalam sebuah doa penghormatan kepada Bunda Maria.
Tahun 1184, Uskup Agung Canterbury, Abbot Baldwin, menulis:
“Terhadap salam dari Malaikat ini, yang
dengannya kita setiap hari menyapa Sang Perawan yang Terberkati dengan
devosi sedemikian, kita biasa menambahkan, “dan terpujilah buah
tubuhmu,” yang dikatakan oleh Elisabet kemudian, setelah mendengar salam
dari Maria, seolah melengkapi perkataan dari malaikat itu, dengan
berkata: “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah
tubuhmu.”
Tahun 1196, dekrit sinoda dari Eudes de Sully, Uskup Paris,
mengajarkan kepada para klerus, “Salam kepada Perawan Maria” ini sebagai
rumusan doa yang telah dikenal di keuskupannya, sebagaimana doa resmi
lainnya, seperti doa Bapa Kami dan Aku Percaya. Sejak saat itu, doa
Salam Maria ini diperkenalkan dan dianjurkan kepada umat beriman,
dimulai dari Sinoda di Durham di Inggris, tahun 1217.Doa Salam Maria ini kemudian dikenal sebagai doa-doa yang umum didoakan oleh para orang kudus (Santo dan Santa), seperti St. Aybert, St. Louis dari Perancis, St. Margaret, St. Dominic dan doa di biara-biara, sebagai doa ungkapan pertobatan. Doa ini umum diulangi, sampai puluhan kali, 50 atau bahkan 150 kali, mengikuti pola pengulangan doa “Kudus, kudus, kudus” yang terus diulangi tanpa putusnya di hadapan tahta Allah yang Maha Tinggi.
Di zaman St. Louis, doa “Salam Maria” berakhir dengan “… terpujilah buah tubuhmu”. Penambahan “Yesus” sesudah frasa itu umumnya dikenal dari abad 15, menurut anjuran Paus Urban IV (1261) dan Paus Yohanes XXII (1316-1344). Teks doa Salam Maria seperti yang kita ketahui sekarang, tercatat sebagai bagian depan salah satu karya Girolamo Savonarola, di tahun 1495. Savonarola adalah seorang biarawan, yang dikenal sebagai reformer ordo Dominikan. Dua tahun sebelumnya, frasa “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini. Amin,” tercatat dalam Calendar of Shepherds, edisi bahasa Perancis. Namun penerimaan resmi teks doa Salam Maria selengkapnya, meskipun sudah disebutkan dalam Katekismus Konsili Trente, baru akhirnya dinyatakan dalam Roman Breviary tahun 1568.
Share.
Label:
Hipmakadeja,
Kekuatan Doa
14.43
KALAU kita
membicarakan tentang perbedaan antara teologi Katolik dan teologi
Kristen non- Katolik, maka sebenarnya perlu didefinisikan denominasi
Kristen yang mana. Oleh karena itu, jawaban ini hanya dapat memberikan
gambaran umum dan memberikan prinsip-prinsip umum. Tanpa mengurangi rasa
hormat kepada saudara/i kita yang Kristen non Katolik, berikut ini kami
paparkan beberapa perbedaan yang memang nyata. Perbedaan antara
teologi Katolik dan teologi Kristen non- Katolik secara umum, kalau mau
disarikan adalah: (1) Konsep pilar kebenaran, (2) Konsep otoritas, (3)
Konsep ekklesiologi, (4) sakramen dan liturgi, (5) Konsep keselamatan,
(6) Konsep mediasi.
Sebaliknya, gereja-gereja non-Katolik menganggap bahwa semua umat beriman mempunyai otoritas dan bertanggungjawab secara langsung kepada Kristus dan tidak perlu mentaati pengajaran dari siapapun – sebagai akibat dari point 1, yaitu Sola Scriptura.
Demikian perbedaan teologis antara Gereja Katolik dan gereja-gereja non-Katolik. Jika mau disarikan lebih lanjut, maka terdapat tiga hal perbedaan, yaitu: otoritas, pilar kebenaran dan mediasi.
Apakah perbedaan teologi Katolik dan teologi Kristen Non-Katolik?
Apakah perbedaan teologi Katolik dan teologi Kristen Non-Katolik?
Tiga pilar (Kitab Suci, Tradisi Suci, Magisterium Gereja) vs Sola Scriptura
Gereja Katolik berpegang kepada tiga pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja, sedangkan gereja- gereja Kristen non- Katolik berpegang kepada Kitab Suci sebagai satu-satunya sumber kebenaran (Sola Scriptura). Gereja Katolik tidak menolak bahwa Kitab Suci adalah pilar kebenaran, namun Gereja Katolik tidak menganggap bahwa satu-satunya pilar kebenaran hanyalah Kitab Suci. Penolakan ini disebabkan karena: (a) Kitab Suci sendiri tidak pernah mengatakan demikian; bahkan menekankan pentingnya pengajaran para rasul yang disampaikan secara lisan maupun tertulis (lih. 2 Tes 2:15) dan otoritas kepemimpinan dalam Gereja (lih. Mat 16:18-19; 18:18); (b) Gereja lahir terlebih dahulu sebelum Kitab Suci, (c) Dengan inspirasi Roh Kudus, Gereja-lah yang menentukan kitab-kitab mana yang masuk dalam Kitab Suci, (d) Sola Scriptura tanpa ada otoritas yang menentukan interpretasi yang benar, terbukti menghasilkan perpecahan gereja. Keempat hal ini menunjukkan bahwa berpegang kepada ketiga pilar ini sebetulnya lebih alkitabiah, jika dibandingkan berpegang kepada hanya Kitab Suci saja. Silakan melihat beberapa artikel dan diskusi berkaitan dengan hal ini: klik ini, klik ini dan klik ini.Konsep tentang otoritas
Gereja Katolik percaya bahwa Kristus memberikan otoritas kepada Rasul Petrus (lih. Mat 16:16-19) dan penerusnya, yaitu para Paus, sebab Ia menghendaki agar Gereja bertahan sampai akhir zaman (lih. Mat 28:19-20); dan juga otoritas diberikan kepada para rasul lainnya – yang diteruskan oleh para uskup (lih. Mat 18:18; Yoh 20:21-23). Mereka inilah yang disebut dengan Magisterium Gereja. Dan fungsi pengajaran ini ditegaskan dalam Luk 10:16 “ Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” Karena Kristus sendiri yang memberikan otoritas kepada para Paus dan para uskup, maka umat Katolik dengan kerendahan hati mengikuti apa yang diperintahkan Kristus dan memberikan diri untuk mentaati pengajaran yang diberikan oleh Magisterium Gereja – yang bersumber pada Kitab Suci dan Tradisi Suci. Dengan otoritas ini, maka Gereja Katolik dapat melewati sejarah selama 2000 tahun dengan tetap mengajarkan pengajaran iman yang sama dari satu generasi ke generasi yang lain. Beberapa artikel yang berhubungan dengan hal ini dapat dibaca di sini – silakan klik, klik ini, klik ini, dan klik ini.Sebaliknya, gereja-gereja non-Katolik menganggap bahwa semua umat beriman mempunyai otoritas dan bertanggungjawab secara langsung kepada Kristus dan tidak perlu mentaati pengajaran dari siapapun – sebagai akibat dari point 1, yaitu Sola Scriptura.
Konsep ekklesiologi
Satu hal mencolok yang memang berbeda antara Gereja Katolik dan gereja-gereja non-Katolik adalah pemahaman konsep Gereja atau ekklesiologi. Bagi Gereja Katolik, Kristus mendirikan satu Gereja, yaitu Gereja Katolik (lih. Mat 16:16-19). Gereja Katolik inilah yang menjadi Tubuh Mistik Kristus (Ef 1:23; Ef 5), yang mempunyai empat tanda – satu, kudus, katolik dan apostolik – silakan klik, serta menjadi sakramen keselamatan bagi seluruh bangsa. Gereja juga harus dimengerti sebagai cara (means) dan tujuan (end) – silakan melihat artikel ini – silakan klik. Dengan kata lain, Gereja adalah pemberian Allah, tanda kasih Allah kepada umat Allah yang harus diterima, dijaga dan sekaligus menjadi tujuan, karena didirikan oleh Kristus, dijiwai oleh Roh Kudus dan mengantar umat manusia kepada keselamatan. Sedangkan bagi gereja-gereja non-Katolik, gereja dipandang hanya sebagai persatuan umat beriman yang percaya kepada Kristus, walaupun antar gereja mempunyai pengajaran yang berbeda-beda. Dialog tentang hal ini dapat dilihat di sini – klik ini.Sakramen dan liturgi
Gereja Katolik mengenal adanya tujuh sakramen: Sakramen Pembaptisan, Sakramen Ekaristi, Sakramen Penguatan, Sakramen Tobat, Sakramen Perminyakan Suci (Pengurapan orang sakit), Sakramen Imamat dan Sakramen Perkawinan. Ke-tujuh sakramen ini diinstitusikan sendiri oleh Kristus sebagai cara-cara yang umum untuk menyalurkan rahmat-Nya kepada umat Allah. Secara garis besar, tujuh sakramen ini pernah dibahas di sini – silakan klik. Beberapa artikel tentang sakramen dapat dilihat di sini:Liturgi tak perpisahkan dengan sakramen. Ada 7 sakramen dalam Gereja Katolik. Dari tujuh sakramen Gereja, 3 yang pertama – Baptis, Ekaristi (1, 2, 3, 4), Penguatan – adalah sakramen inisiasi yang menjadi sakramen-sakramen dasar bagi kehidupan orang Kristen. Sakramen Urapan Orang Sakit dan Sakramen Tobat (bagian 1, 2, 3, 4), diberikan untuk kesembuhan baik fisik maupun rohani. Dan akhirnya, Sakramen Perkawinan (bagian 1, 2) dan Imamat diberikan untuk menguatkan kita dalam menjalankan misi di dunia ini dalam mencapai tujuan akhir, yaitu Kristus.Sedangkan gereja- gereja Kristen non-Katolik seperti Lutheran hanya mengenal Sakramen Baptis dan Ekaristi (yang disebut Perjamuan Kudus), kadang termasuk juga Sakramen Tobat. Bahkan sakramen- sakramen inipun mempunyai arti berbeda dengan apa yang dipercayai oleh Gereja Katolik. Mereka tidak mempercayai bahwa baptisan adalah cara yang dipakai oleh Kristus untuk menyelamatkan manusia. Dan Perjamuan Kudus juga hanya dianggap sebagai simbol, sedangkan Gereja Katolik mempercayai bahwa Kristus hadir secara nyata (Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan) dalam rupa roti dan anggur.
Konsep keselamatan
Bagi umat Katolik, keselamatan adalah merupakan anugerah Allah dan hal ini juga dipercayai oleh gereja-gereja non-Katolik. Namun, selain rahmat Allah, Kitab Suci juga mencatat hal-hal lain, seperti: pentingnya iman untuk keselamatan (lih. Ef 2:8), baptisan yang menjadi syarat keselamatan (lih. Yoh 3:5), orang akan diadili menurut perbuatannya (Mat 16:27, 1Pet 1:17). Dengan demikian, Gereja Katolik tidak mempercayai hanya iman saja (sola fide) dalam keselamatan seperti yang dipercayai oleh gereja-gereja non-Katolik, karena Kitab Suci secara keseluruhan memang tidak pernah mengatakan bahwa hanya karena iman saja, kita diselamatkan. Bahwa iman menjadi syarat keselamatan (Ibr 11:6) adalah benar, namun bukan iman saja. Silakan melihat diskusi panjang tentang topik ini di sini – silakan klik dan jangan lupa untuk melihat dialognya di sini – silakan klik.Maria dan para kudus
Perbedaan lain yang menonjol adalah konsep mediasi. Gereja Katolik mempercayai bahwa semua orang dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Kristus. (lih. 1Kor 3:9) Kalau kita semua dipanggil menjadi teman sekerja Kristus, apalagi Maria Bunda Allah, dan para kudus. Bunda Maria dan para kudus adalah mereka yang sungguh telah bekerjasama dengan rahmat Allah, sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah. Gereja Katolik melihat bahwa kematian tidaklah memisahkan orang-orang yang telah dibenarkan oleh Allah dengan umat Allah di dunia ini (lih. Rom 8:38-39). Sedangkan gereja-gereja non-Katolik memandang bahwa orang-orang yang telah meninggal sama sekali terpisah dari umat Allah yang masih mengembara di dunia ini. Diskusi panjang tentang topik ini dapat dibaca di sini – silakan klik.Demikian perbedaan teologis antara Gereja Katolik dan gereja-gereja non-Katolik. Jika mau disarikan lebih lanjut, maka terdapat tiga hal perbedaan, yaitu: otoritas, pilar kebenaran dan mediasi.
Label:
Hipmakadeja
22.29
Agenda Kegiatan Hipmakadeja
Written By Unknown on Minggu, 09 Februari 2014 | 22.29
NO
|
NAMA KEGIATAN
|
TUJUAN
|
WAKTU PELAKSANAAN
|
TEMPAT KEGIATAN
|
SUMBER DANA
|
PENANGGUNG JAWAB
|
1.
|
Mengadakan silaturami antara penasehat, Pembina dan anggota HIPMAKADEJA
|
Membangun dan mempererat hubungan antar penasehat, Pembina dan anggota
|
Disesuaikan
|
Disesuaikan
|
Kas HIPMAKADEJA dan Sumbangan bersama
|
Bid. Humas
|
2.
|
Mengadakan silaturami dengan organisasi kemahasiswaan khatolik di keuskupan Jawa Timur
|
Membangun hubungan antar kaum muda khatolik
|
Disesuaikan
|
Disesuaikan
|
Kas HIPMAKADEJA dan Sumbangan bersama
|
Bid. Humas
|
3.
|
Mengadakan silaturami dengan pihak dekenat Jayawijaya Keuskupan Jayapura
|
Membangun dan mempererat hubungan antara HIPMAKADEJA dan Dekenat Jayawijaya Keuskupan Jayapura
|
Disesuaikan
|
Disesuaikan
|
Kas HIPMAKADEJA dan Sumbangan bersama
|
Bid. Humas
|
Label:
Hipmakadeja
22.19
Remaja masa kini dihadapkan dengan tekanan-tekanan yang sulit. Banyak dari pergumulan mereka berkisar seputar kesucian seksual, rokok, minuman keras, mematuhi orang tua, musik, film, internet, dan pornografi. Ayat-ayat Alkitab berikut ini penting untuk mendukung kehidupan spiritual remaja-remaja Kristen masa kini di dalam dunia yang berdosa yang penuh dengan godaan ini. Ayat-ayat ini perlu diingat-ingat dan digunakan sebagai senjata melawan panah api Iblis.
Tentang merokok dan minum minuman keras.
Musik, film, dan internet.
Ayat Alkitab untuk Remaja
Ayat Alkitab untuk Remaja
Remaja masa kini dihadapkan dengan tekanan-tekanan yang sulit. Banyak dari pergumulan mereka berkisar seputar kesucian seksual, rokok, minuman keras, mematuhi orang tua, musik, film, internet, dan pornografi. Ayat-ayat Alkitab berikut ini penting untuk mendukung kehidupan spiritual remaja-remaja Kristen masa kini di dalam dunia yang berdosa yang penuh dengan godaan ini. Ayat-ayat ini perlu diingat-ingat dan digunakan sebagai senjata melawan panah api Iblis.
Tentang merokok dan minum minuman keras.
Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?" (1 Korintus 6:19-20Mematuhi orang tua.)
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. (Efesus 6:1-3Berkencan (bermesraan, berciuman).)
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23Kesucian seksual.)
Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri." (1 Korintus 6:18Ayat ini juga baik: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya." Yesus mengatakan hal itu dalam Matius 5:28)
Musik, film, dan internet.
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:1-2Ayat-ayat ini hanyalah beberapa saja di dalam Alkitab yang berbicara tentang permasalahan-permasalahan yang seringkali dihadapi oleh para remaja. Ingatlah ayat-ayat di halaman ini dan simpanlah di dalam hati Anda. Berikut beberapa ayat-ayat lagi untuk para remaja.)
Label:
Hipmakadeja
21.55
SEJARAH PEMBENTUKKAN HIPMAKADEJA Sta. THERESA AVILA
Sejarah pembentukan Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Khatolik Dekenat Jayawijaya Keuskupan Jayapura ( HIPMAKADEJA ) Jawa Timur mempunyai perjalanan yang cukup panjang. Berdirinya organisasi ini dimulai dari kelompok doa kecil yang kemudian oleh beberapa senior Mahasiswa Khatolik Dekenat Jayawijaya Keuskupan Jayapura yang berdomisili di Malang Jawa Timur, selanjutnya sepakat membentuk organisasi Himpunan Pelajar Mahasiswa Khatolik Dekenat Jayawijaya Keuskupan Jayapura ( HIPMAKADEJA ) Sta. Theresa Avila Se-Jawa Timur. Kemudian wacana itu direalisasikan dengan dilaksanakannya Musyawarah Kecil HIPMAKADEJA Sta. Theresa Avila Se-Jawa Timur yang mendeklarasikan diri serta menghasilkan perangkat organisasi. Secara lebih jelasnya, akan diuraikan pada penjelasan dibawah ini.
Ide Awal Pembentukkan HIPMAKADEJA Jawa Timur
Ide awal membentuk wadah organisasi Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Khatolik asal Keuskupan Jayapura Dekenat Jayawijaya adalah dengan melihat kondisi real di daerah Dekenat Jayawijaya dimana nilai keimanan khatolik mulai memudar akibat berbagai hal terutama benturan kepentingan berbagai kelompok terutama elit politik local dan elit politik pusat yang memporak-porandakan tatanan nilai kehidupan baik social, budaya hingga nilai keimanan. Hal ini diperparah lagi dengan datangnya era globalisasi yang jelas-jelas mempercepat kehancuran nilai-nilai itu. Kehancuran nilai-nilai ini mengakibatkan kaum muda sebagai pilar gereja dan adat mulai kehilangan identitasnya akibatnya mental dan moral mulai diombang-ambingkan sehingga gereja merana dan menjadi kerdil akibat minimnya keterlibatan tunas muda gereja. Inilah kondisi nyata yang terjadi saat ini dipapua khususnya Keuskupan Jayapura Dekenat Jayawijaya.
Menyadari hal ini maka kami pelajar dan mahasiswa Dekenat Jayawijaya Keuskupan Jayapura selama study di Jawa Timur ini perlu membentengi diri dengan meningkatkan keimanan khatolik, membentuk mental yang kuat dan moral yang baik dengan nilai-nilai kristiani. Selain itu juga mempertahankan identitas diri sebagai orang Khatolik Papua asal Jayawijaya dengan meningkatkan pemahaman iman khatolik secara cultural.
Organisasi adalah jawaban terhadap kebutuhan itu. Walaupun intinya adalah kesadaran pribadi namun organisasi juga penting sebagai fasilitator yang mampu mengakomodir kebutuhan akan peningkatan nilai iman khatolik, pembentukkan mental dan moral yang berkarakter kristiani. Organisasi Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Khatolik Dekenat Jayawijaya Keuskupan Jayapura Jawa Timur diharapkan mampu memberikan solusi guna menjawab kebutuhan itu.
Santa Theresa Avila sebagai nama organisasi
Organisasi Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Khatolik Dekenat Jayawijaya Keuskupan Jayapura Jawa Timur menggunakan Santa Theresa Avila sebagai nama organisasi. Alasan HIPMAKADEJA Jawa Timur memakai Santa Theresa Avila sebagai nama organisasi adalah karena Santa Theresa Avila mengajarkan bagaimana kita berjumpa secara mesra dengan Allah melalui doa. Dan juga Santa Theresa Avila menjadi ibu rohani bagi jiwa-jiwa yang merindukan Allah. Dengan demikian, segenap anggota HIPMAKADEJA Jawa Timur rindu untuk mengalami perjumpaan dengan Allah melalui doa dengan kasih, kelepasan dan kerendahan hati. Dimana dengan kasih, kelepasan dan kerendahan hati anggota HIPMAKADEJA Jawa Timur menjadi intelegtual yang mendapatkan kelepasan dari keinginan duniawi yang merusak mental dan moral pribadi, sehinggah dapat melayani dengan kerendahan hati atas dasar kasih kepada Allah dan sesama.
Terbentuknya HIPMAKADEJA Sta. Theresa Avila
Melalui Musyawarah Kecil HIPMAKADEJA Keuskupan Jayapura Sta. Theresa Avila Jawa Timur pada tanggal 27-28 Oktober 2007 yang dilaksanakan di Jl. Bandulan Gg.01 Kec. Sukun Kota Malang dideklarasikan terbentuknya organisasi Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Khatolik Dekenat Jayawijaya Keuskupan Jayapura (HIPMAKADEJA) Sta. Theresa Avila Jawa Timur. Dalam Musyawarah Kecil itu juga menghasilkan dan menetapkan perangkat HIPMAKADEJA Keuskupan Jayapura Sta. Theresa Avila Jawa Timur yaitu :
- Menetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tanggah HIPMAKADEJA Keuskupan Jayapura Sta. Theresa Avila Jawa Timur.
- Memilih badan pengurus inti HIPMAKADEJA Keuskupan Jayapura Sta. Theresa Avila Jawa Timur.
- Menyusun program kerja HIPMAKADEJA Keuskupan Jayapura Sta. Theresa Avila Jawa Timur.
Sedangkan beberapa perangkat organisasi yang lain yang belum terbentuk seperti penempatan personalia pada bidang-bidang, peraturan organisasi akan ditentukan melalui rapat kerja nantinya oleh badan formatur terpilih.
Label:
Hipmakadeja


